Sekolah

Saat ini semakin banyak sekolah yang berdiri di republik ini. Bentuk, macam dan kurikulumnya juga beragam, dari mulai sekolah umum negeri milik pemerintah hingga sekolah internasional yang menggunakan bilingual system bahkan lebih.

Pada umumnya saat ini anak usia sekolah sudah bergeser dari minimal 5 tahun menjadi minimal 3 tahun,  sebab beberapa orangtua merasa perlu untuk menyekolahkan anak-anak mereka di pre-school dengan berbagai macam alasan. Bahkan saat ini sudah ada pula lembaga pendidikan non-formal yang diperuntukkan bagi anak-anak yang berusia dibawa 3 tahun (batita), bahkan sebelum anak tersebut berusia dibawah 1 tahun !!

Salah satu dari orangtua tersebut adalah saya. Saya mulai memasukkan anak saya ke K*** S****, Bintaro pada saat anak saya berusia 11 bukan dan baru saja dapat berjalan dengan lancar. Dengan jadwal ‘belajar’ seminggu sekali, dan setiap belajar hanya 1 jam pelajaran, saya dapat melihat anak saya sangat berbahagia pada saat berinteraksi dengan teman-teman seusianya.Sebab salah satu tujuan saya ‘menyekolahkan’ anak saya disana adalah selain untuk melatih perkembangan motorik kasarnya, mis dengan belajar lempar bola dengan ‘teacher’ nya, tetapi juga motorik halusnya yaitu dengan cara dia bergaul dan bekerja sama dengan teman-teman sekelasnya.

Tahun berganti tahun, anak saya telah cukup usianya untuk masuk ke jenjang TK, yang juga terjadi pergeseran batas usia. Pada jaman saya bersekolah TK dulu, usia saya adalah 5 tahun, sedangkan anak saya masuk TK pada saat dia berusia 4 tahun.

Saya mendaftarkannya kesalah satu sekolah swasta islam di BSD yang letaknya tidak jauh dari rumah dan alhamdulillah diterima. Karena sebelumnya anak saya disekolahkan pada sekoalh bilingual yang tidak berbasis agama, terus terang awalnya saya juga merasa cukup kewalahan dengan banyaknya hapalan doá-doá yang wajib diketahui oleh si anak. Tetapi bukankah memang pada awalnya saya berniat memasukkan anak saya di sekolah tersebut agar pemahaman dia mengenai agama itu jauh lebih baik daripada pemahaman kedua orangtuanya.

Hanya saja saya agak menyayangkan untuk metode pengajarannya yang cenderung menggolong-golongkan seseorang berdasarkan agama, sangat kerdil sekali pemahamannya menurut saya. sampai pernah suatu kali anak saya batal mau bermain bola hanya karena dia baru menyadari kalo sahabat karibnya yang selama ini selalu bermain dengannya itu non-muslim. Betapa piciknya negeri ini di masa datang kalau setiap anak penerus bangsa yang bersih didoktrin hanya boleh bergaul dan bermain dengan yang seagama saja.

Terkadang memang lucu dan agak aneh kalo menurut saya, terkadang pendidikan agama yang diajarkan di sekolah anak saya itu suka tidak dibarengi dengan pendidikan psikologis anak yang cenderung menerima tanpa disaring.Misalnya saja, tiba-tiba anak saya yang semata wayang itu bilang ke saya : ma, mama kan gak pake jilbab … berarti mama KAFIR !!!!

Naudzubillah … kaget banget dengernya, sama anak sendiri dibilang kafir hanya karena saya belum menutup aurat saya secara sempurna. Dan ketika dia mengklaim bahwa setiap orang non-muslim itu akan masuk neraka, lebih parahnya lagi ketika dia bicarakan itu pada saat kita sedang berada di wilayah umum … (^_^)

Seyogyanya pendidikan itu bukan hanya bersifat pendidikan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah SWT sebagai bentuk terima kasih kita pada_Nya, tetapi lebih utama jika kita bisa mendidik anak-anak kita bagaimana cara berkasih sayang sesama manusia (apapun golongan, ras dan agamanya ) dan alam sebagai wujud hubungan baik kita sesama makhluk ciptaan Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s