Dicari: Suami Coleh!

Jangan salah tafsir dulu membaca judul di atas. Kalimat itu bukan dinisbatkan pada ucapan anak kecil yang baru mulai belajar bicara, mengucapkan “soleh” jadi “coleh”. Kata “coleh” yang dimaksud adalah singkatan macho dan saleh. Ada pertimbangan penulis ketika memilih judul itu.

Pertama, orang seringkali berasumsi membincang suami saleh seolah melulu berdimensi keagamaan. Artinya suami saleh adalah suami yang ibadahnya kepada Allah rajin. Puasa Senin-Kamis, minimal sebulan sekali tidak pernah bolong. Pun demikian soal salat malam, nyaris tak pernah absen. Minimal sekali per dua pekan.Sementara ia tak pernah mau peduli dengan tugas-tugas kerumahtanggaan isterinya di luar tugas mendidik anak-anak.

Kedua, suami saleh seakan dipandang sebagai seorang ahli agama yang tak perlu mengurusi soal-soal kesehatan, kebersihan dan kepantasan. Minimal untuk kepantasan performa diri. Dengan kata lain, sering dianggap kesalehan itu sama sekali tak terkait dengan soal-soal kejantanan dan estetika. Sehingga ia tak perlu mempedulikan aspek kekuatan (olah raga) dan keindahan diri. Padahal Rosulullah berpesan, “Muslim yang dicintai Allah adalah Muslim yang kuat!”

Di samping itu, bukankah Allah itu indah dan mencintai keindahan? Jelas pesan di atas bukan semata-mata berorientasi pada perintah persiapan jihad. Tapi ia (pesan itu) memang menjangkau juga aspek rumah tangga. Agar suami yang kuat nyaman dipandang dan tentu bisa memberi kebahagiaan pada pasangannya dalam hubungan suami-isteri.

Ketiga, tak sedikit orang berasumsi konotasi suami saleh adalah orang-orang yang pasif. Ia adalah suami yang selalu menunggu layanan dari isteri, tidak berinisiatif melayaninya. Ia seakan selalu meminta untuk dicinta, bukan memberi cinta kepada isterinya. Ia seolah menempati posisi raja yang harus ditaati perintahnya, bukan mitra bagi isteri dan anak-anaknya. Dan seterusnya, dan seterusnya. Paling tidak, ketiga asumsi yang keliru itu kita akan coba luruskan.

Jika yang dimaksud saleh pengertiannya adalah taqwa, maka kita tau, tidak ada manusia paling bertaqwa di dunia, kecuali Rasulullah saw. Track record Nabi saw soal keterlibatannya dalam urusan pekerjaan rumah tangga, sungguh luar biasa. Aisyah pernah ditanya: “Apakah yang dikerjakan Rasulullah saw kalau di rumah?” Ia menjawab: “Beliau saw sebagaimana kebanyakan manusia lain, menjahit terompahnya, menambal pakaiannya, memerah susu kambingnya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh orang lelaki. Baru bila tiba waktu salat, beliau keluar.” (HR. Bukhari)

Rasulullah juga amat baik perhatiannya dalam urusan belanja isteri. Sehingga tidak pernah beliau membiarkan isterinya berhutang pada orang lain. Seharusnyalah, suami taqwa (saleh) mampu memberi belanja yang cukup dan menjaga diri isteri agar tidak meminta-minta atau tidak menggantungkan urusan keluarganya pada orang lain.

Suami saleh adalah suami yang mandiri, baik secara sikap maupun finansial. Ia tidak akan mengadukan kesulitannya pada seseorang, sekalipun kepada orangtuanya atau keluarganya. Ia tetap menjaga dirinya dengan baik, walaupun dalam keadaan kesulitan, sehingga orang lain menganggap dia orang yang tidak berkekurangan.

Selanjutnya, dalam hal kejantanan Rasul? Jangan ditanya. Sejak awal bahkan Nabi selalu mengingatkan agar para orang tua mengajarkan anak-anak mereka memanah, menunggang kuda, dan berenang. Semua jenis olahraga ini, terang membutuhkan keberanian dan kekuatan, yang konotasinya adalah kedigjayaan (kejantanan). Karena itu hampir tak pernah dicatat oleh sejarah, Rasul mengalami sakit serius. Concern Nabi dalam memelihara kekuatan diri, barangkali terindikasi dari kisah berikut.

Diriwayatkan, dalam memberikan pelayanan kebutuhan seksual isterinya, Nabi ternyata melakukannya dengan sangat baik, menarik, dan menggairahkan isterinya. Rosulullah saw dalam kaitan hal ini berpesan; “Cucilah pakaianmu, pangkaslah rambutmu, bersiwaklah, berhiaslah dan bersihkanlah dirimu. Karena sesungguhnya Bani Israil tidak pernah berbuat seperti itu, sehingga wanita-wanita mereka suka berzina.”

Bahkan dalam hadist berikutnya Nabi berpesan; “Jika seseorang di antara kamu bersenggama, hendaklah ia lakukan dengan kesungguhan. Kemudian, kalau ia telah menyelesaikan kebutuhannya (puas) sebelum isterinya mendapatkan kepuasan, maka janganlah ia buru-buru mencabut (penisnya) sampai isterinya mendapatkan kepuasan.” (HR Abdurrazaq dan Abu Ya’la, dari Anas).

Banyak riwayat menyebutkan betapa sikap romantisme Rosul kepada seluruh isteri-isteri beliau. Kepada Aisyah misalnya, beliau selalu memanggil dengan sebutan “Ya Humairoh” (artinya si Pipi Merah). Begitupun ketika Rasul menghadapi isteri beliau di di tempat tidur. Ternyata beliau tetap menjaga kebersihan, kejantanan, dan kehalusan, sehingga mampu merangsang isterinya untuk dapat menikmati kebahagiaan bersuami.

Sebaliknya, beliau sangat mengecam para suami yang jorok dan tidak rapi pada saat bercumbu dengan isterinya. Sehingga menyebabkan isteri mereka muak dan bosan, sampai-sampai akhirnya (na’udzubillah) mereka melirik lelaki lain. Jadi? Ya tentu saja tidak pantas suami yang dekil, kumel, apalagi loyo, disebut suami saleh. Sebab sifat-sifat tersebut di atas (dekil, kumel, dan loyo) adalah ciri performa para lelaki Yahudi, alias tidak nyunah.

Setelah mengulas singkat sikap empati suami pada tugas-tugas isteri. Kemudian kita menyoroti juga soal kemandirian sikap dan kemampuan mencukupi nafkah keluarga yang harus dipenuhi seorang suami saleh. Begitupun soal keperkasaan yang harus diperhatikan seorang suami. Maka aspek terakhir yang tak kalah penting kita soroti adalah soal sikap kepemimpinan suami terhadap isteri.

Seorang suami saleh, jelas bukan pemimpin perusahaan apalagi menganggap diri sebagai seorang raja diraja. Ia hakikatnya merupakan mitra ibadah bersama isterinya. Tentunya sifat-sifat otoritarian tak ada dalam kamus kehidupan seorang suami saleh. Yakni sikap memaksa isteri dan anak-anaknya harus taat pada perintahnya, serta menghukumnya jika melanggar. Syahdan, Aisyah dan Hafsah (isteri-isteri Rosulullah saw) pernah membuat mosi minta kenaikan uang belanja. Tapi Nabi tidak memperkenankannya, hingga membuat mereka melakukan aksi protes.

Kelakuan para isteri Nabi sempat tembus ke telinga orangtua mereka. Kedua mertua Nabi, Umar dan Abu Bakar (semoga Allah merahmati mereka), segera bertandang ke rumah Nabi untuk memarahi anak-anak mereka. Imam Ahmad meriwayatkan kisah itu dari Jabir, ra, katanya; Abu Bakar datang meminta izin kepada Rasulullah saw untuk menghadap.

Saat itu Nabi sedang duduk, dan orang-orang bergerombol di depan pintu rumah beliau. Namun Abu Bakar tidak diizinkan masuk. Lalu datang Umar bin Khattab. Tapi ia juga tidak diizinkan masuk. Setelah beberapa saat, baru mereka diizinkan masuk oleh Nabi. Lalu keduanya masuk, sedang Rasulullah saw duduk diam. Para isteri beliau duduk di sekitarnya. “Aku akan berkata kepada Nabi, yang bisa jadi akan membuat beliau tertawa,” kata Umar.

Lalu ia melanjutkan, “Wahai Rasulullah andaikan aku melihat puti Zaid yang kemudian menjadi isteri Umar meminta nafkah kepadaku, niscaya sudah kupukul lehernya.” Mendengar ucapan Umar, beliau saw tertawa hingga gigi gerahamnya kelihatan. Lalu beliau bersabda, “Mereka yang ada di sekitarku ini (para isteri beliau–pen) juga meminta nafkah kepadaku.”

Kontan Abu Bakar serta Umar bangkit menuju ke tempat Aisyah dan Hafsah. Mereka berdua berkata, “Kalian berdua meminta sesuatu yang tidak dimiliki Rasulullah.” Rasulullah saw segera melerai dan melarang Abu Bakar dan umar. Para istri beliau pun berkata, “Demi Allah, sesudah itu kami tidak akan meminta kepada Rasulullah apa-apa yang tidak dimilikinya.” Sesaat kemudian kepada Aisyah, Rosulullah saw berkata, “Aku mengingatkan kepadamu satu hal yang lebih disenangi bila kamu mengharapkannyya dengan segera, sehingga kamu dapat berkonsultasi dengan kedua orangtuamu.” “Apa itu?” tanya Aisyah.

Kemudian beliau membacakan surat Al Ahzab ayat 28-29. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: “Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya segera kuberikan mut’ah, dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.

Dan jika kalian menginginkan keridhoan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa saja yang berbuat baik di antaramu, pahala yang besar.” “Apakah engkau mengira aku masih akan meminta saran kepada kedua orang tuaku? Aku memilih Allah dan Rasul-Nya. Aku juga memohon, janganlah engkau memberitahukan pilihanku ini kepada salah seorang di antara istrimu,” jawab Aisyah. “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang bengis. Ia mengutusku sebagai pendidik dan memberi kemudahan,” sabda Nabi saw (dikutip dari sumber yang sama).

Kalau boleh kita konklusi uraian singkat di atas, maka rumus suami saleh ialah paling tidak ia harus “coleh” — macho dan saleh. Yakni jasmaninya prima, karena senantiasa menjaga kesehatan dan kebersihan diri. Dengan begitu ia akan selalu giat beribadah, bekerja mencari nafkah, dan prima juga dalam melayani isteri.

Di samping tentunya tak kalah urgen, ia harus menjadi orang yang sabar dan lembut terhadap keluarga, serta kepada siapapun tentunya. Nah, tipikal suami seperti di ataslah yang kini sedang atau memang sulit dicari. Ayo, siapa yang bisa memenuhi kriteria suami coleh? (stn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s