Jamilah dan Sang Presiden

Terus terang saya menonton film ini dengan rasa sedih, kesal, sebal, takjub dan saya merasa seperti tidak sedang menonton sebuah film tetapi sedang melihat sebuah realita kenyataan yang selama ini tidak terlalu saya ketahui.

Mungkin sedikit kritikan saya untuk film tersebut, episodenya yang maju – mundur sepertinya sangat tidak beraturan dan terkadang malah banyak sekali adegan yang menurut saya kurang menjelaskan makna dari sang tokoh.

Misalnya dengan adanya tokoh Kang Surya yang rumornya sebagai simpanan Bu Ria (Christine Hakim), sang Kepala Lapas. Agak rancu sebenarnya kalau disitu dijelaskan bahwa keluarnya Kang Surya dari Lapas karena bantuan Jamilah yang ‘katanya’ membuka mata hatinya. Sebab dialog antara Jamilah dan Kang Surya yang diperlihatkan terlalu minim sampai bisa diambil kesimpulan seperti itu.

Tapi terlepas dari itu semua, film ini adalah sebuah film yang sangat layak ditonton oleh masyarakat, mungkin malah bisa dijadikan salah satu acuan untuk pembelajaran bagi masyarakat mengenai betapa buruk dan lemahnya hukum di negara ini dan betapa ‘dahsyat’nya cara-cara yang digunakan sindikat perdagangan anak dan perempuan di negeri ini.

Salah satu yang membuat saya agak ‘bengong’ melihat film ini, yaitu ketika diilustrasikan adanya beberapa truk pengangkut sayuran yang memasuki sebuah pasar tradisional yang sangat ramai. Dan pada saat bongkar muatan, sayuran yang diturunkan itu cuma beberapa ‘bakul besar’ saja, karena ternyata bakul tersebut hanya dipakai untuk menutupi sebuah ruangan yang terbuat kayu dimana didalamnya terdapat puluhan anak-anak usia 7 – 15 th yang mayoritas adalah anak perempuan.

Yang saya bingung, apakah cara-cara tersebut tidak diketahui oleh aparat ?  Dan apakah pada saat pemindahan anak-anak tersebut dari truk menuju sebuah rumah ditengah pasar tidak menggugah hati nurani orang yang berada di tempat tersebut untuk melaporkannya ?

Berapa banyak anak yang menjadi korban traficking kalau memang proses pemindahannya semudah itu dan kalau kita selama selalu menutup mata dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Tidak mengherankan kalu pada tahun 2007, negara ini menjadi negara ke-3 terparah di dunia untuk penenganan masalah human trafficking.

Kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan yang sepertinya sangat ditonjolkan dalam film ini. Sebab karena ketiga hal tersebutlah, Jamilah sudah diperdagangkan oleh ayahnya ketika dia berumur 6 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s