Kartini dan Persamaan Gender

Selamat Hari Kartini bagi seluruh wanita di Indonesia !!!!!

Hari ini seluruh wanita Indonesia bergebira menyambut hari kelahiran pahlawan emansipasi wanita satu ini, wanita yang pertama kali mendirikan sekolah baca tulis khusus bagi perempuan yang pada zamannya sangat dibatasi untuk memperoleh pendidilkan.

Kartini muda dapat mengajar dikarenakan dia memperoleh pendidikan dasar (dia adalah anak dari seorang bangsawan di daerah tersebut). Tetapi walaupun Kartini muda hanya diperbolehkan untuk mengecap pendidikan hanya sebatas sekolah dasar, dia tidak berputus asa dan tetap bertekad untuk melanjutkan belajar walaupun dengan cara non-formal atau dengan membaca banyak buku yang diperoleh dari teman-temannya semasa dia sekolah dahulu.

Banyak membaca telah membuka wawasan Kartini muda dalam berpikir mengenai kehidupan yang dilihat dan dialaminya selama ini. Dia pun mulai memberontak dan berusaha untuk menularkan ilmunya kepada perempuan-perempuan yang ada di sekelilingnya. Dan dialah wanita pertama yang mendirikan sekolah pendidikan formal pertama bagi perempuan. Suatu gerakan pendobrakan adat pada masa itu menurut saya.

Tapi itu masa lalu, masa dimana wanita sangat dibatasi dalam memperoleh ilmu dan bersosialisasi dengan sesamanya. Itulah zaman dimana kedudukan wanita hanyalah sebagai pendamping suami, pengasuh anak, yang bertanggung jawab atas kebersihan dan kerapihan rumah serta (maaf) sebagai pemuas nafsu para suami.

Tapi sekarang ? Mungkin hal itu sudah jarang ditemui lagi, lebih – lebih di kota besar seperti Jakarta.  Seandainya adapun, akhirnya pasti terjadi KDRT di belakang layar …. Apa yang terjadi dengan perempuan-perempuan sekarang ini ?

Saat ini, pendidikan, sarana bersosialisasi dan lowongan pekerjaan apapun hampir seluruhnya bisa dimasuki dan diikuti oleh kaum wanita, dari mulai menjadi guru hingga menjadi petinju wanita, lalu apa lagi yang kurang ? Secara kasat mata cita-cita RA Kartini agar wanita dapat memperoleh hak pendidikan dan hak yang sama dengan kaum lelaki sepertinya sudah tercapai.

Tapi jujur, terkadang saya berpikir,  apakah kondisi seperti ini yang diinginkan Kartini sesungguhnya ? Dimana pola pikir tentang persamaan gender sepertinya sudah sangat menakutkan (kalau menurut saya) dan tidak sesuai dengan koridor agama. Saat ini banyak saya lihat para suami yang tidak ada lagi harga dirinya dimata istri, suami hanya sebagai pelengkap saja, suami justru yang menjalankan semua kewajiban rumah tangga yang seharusnya menjadi kewajiban seorang istri.

Mungkin sebagai perempuan saya gak fair menilai kondisi gender ini, tapi saya sendiri miris kalau melihat ada seorang suami yang selalu disuruh-suruh istri mengurusi anak-anak mereka sementara sang istri sibuk sendiri dengan urusannya. Apa fungsi seorang istri atau ibu kalau begitu caranya ?

Mungkin untuk banyak perempuan, statement saya diatas itu sangat bodoh dan tidak mensyukuri keadaan yang ada saat ini, tapi itu yang saya rasa. Menurut pemahaman saya, bukankah suami itu adalah seorang pemimpin rumah tangga dan setiap suami/istri di dalam sebuah pernikahan memiliki peranan masing-masing yang sudah diatur  ?

Kemajuan kebebasan bersosialisasi dan bekerja adalah sebuah kemajuan yang amat baik bagi kaum perempuan, selama kita tidak melupakan kodrat kita sebagai seorang istri dan seorang ibu dari amanat yang dititipkan Allah kepada kita.

Itu menurut saya !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s